News, Article, and Activity

Transformasi Sistem Ketahanan di Bidang Kesehatan dengan Mendorong Produksi Alat Kesehatan yang Menggunakan Bahan Baku Dalam Negeri

Alat kesehatan merupakan salah satu kebutuhan penting yang harus dipenuhi agar dapat meningkatkan penyediaan pelayanan kesehatan. Berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan, Kementerian Kesehatan berupaya untuk meningkatkan pertumbuhan jumlah industri maupun jenis alat kesehatan yang diproduksi sehingga mencapai produk dalam negeri yang bermutu, memiliki daya saing dan terjangkau oleh masyarakat. Namun, tidak sedikit alat kesehatan yang beredar merupakan produk impor. Berdasarkan data e-Katalog LKPP tahun 2019-2020, transaksi alat kesehatan masih didominasi produk impor, yakni mencapai 88% dari total nilai transaksi alat kesehatan. Oleh karena itu, pemerintah perlu mengambil kebijakan untuk mengatur belanja alat kesehatan bagi unit pelayanan kesehatan pemerintah dan mendorong pemanfaatan sumber daya dalam negeri.

Seiring dengan bertambahnya kebutuhan akan alat kesehatan, Kementerian Kesehatan mengambil langkah strategis dengan mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 17 Tahun 2017 tentang Rencana Aksi Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan untuk mendukung program peningkatan pemanfaatan sumber daya dalam negeri sebagai bahan baku untuk memproduksi alat kesehatan. Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan melalui Direktorat Ketahanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan selaku pelaksana program merencanakan sebuah solusi kreatif untuk mendukung tercapainya program tersebut dengan mengadakan pertemuan “Focus Group Discussion antara Produsen Bahan Baku/komponen semi-finished products Alat Kesehatan dan Industri Alat Kesehatan Indonesia”.

Pertemuan yang dilaksanakan di Jakarta pada 3 Agustus 2022 ini dihadiri oleh industri bahan baku/komponen semi finished products, industri alat kesehatan dalam negeri, asosiasi industri alat kesehatan, serta internal Kementerian Kesehatan. Pelaksanaan kegiatan ini merupakan salah satu tahapan untuk melakukan pemetaan bahan baku alat kesehatan dalam negeri, khususnya logam stainless steel, plastik, dan karet/latex. Peserta lintas sektor dan asosiasi menyampaikan beberapa komponen yang harus dipenuhi dan masukan-masukan yang perlu menjadi pertimbangan dalam kerja sama produksi alat kesehatan. Dari diskusi tersebut diperoleh output berupa rekomendasi yang menjadi perhatian bersama untuk menciptakan alat kesehatan yang bermutu dan memiliki daya saing baik dari segi kualitas maupun harga, sehingga diharapkan ke depannya Indonesia memiliki ketahanan di bidang kesehatan yang mampu memenuhi kebutuhan alat kesehatan dengan produk-produk buatan negeri sendiri.

Sumber : https://farmalkes.kemkes.go.id/2022/08/transformasi-sistem-ketahanan-di-bidang-kesehatan-dengan-mendorong-produksi-alat-kesehatan-yang-menggunakan-bahan-baku-dalam-negeri/

Powered:

PT.Mekar Abadi Pratama

  • Jasa Instalasi Gas Medis Rumah Sakit, Instalasi Vakum Medis, Nurse Call System, dan Instalasi Gas Medis Klinik Murah dan Bergaransi
  • Instalasi Gas Medis
  • Instalasi Vakum Medis
  • Instalasi Gas Medis Rumah Sakit
  • Nurse Call System
  • Instalasi gas medis dan vakum medis

https://linktr.ee/MekarAbadiPratama

www.mekarabadipratama.co.id

WharsApp : 0821-3784 9704

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Dukung Penggunaan Alat Kesehatan Dalam Negeri melalui Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (BBI)

Alat kesehatan merupakan salah satu komponen penting dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan. Kemajuan teknologi kesehatan menyebabkan berkembangnya alat kesehatan dan pengobatan yang serba canggih. Teknologi alat kesehatan yang berkembang saat ini seiring dengan perkembangan teknologi IT dari teknologi sederhana sampai teknologi tinggi dan digunakan di fasilitas pelayanan kesehatan maupun di rumah tangga. Perkembangan industri alat kesehatan tentunya harus sejalan dengan peningkatan teknologi produk alat kesehatan nasional.

Berbagai upaya pengembangan alat kesehatan telah dilakukan, baik oleh kalangan akademisi, pemerintah, bisnis dan juga komunitas. Namun masih terdapat berbagai macam persoalan mendasar yang dihadapi dalam upaya pengembangan alat kesehatan. Terutama terkait dengan aspek keberlangsungan program untuk dapat terus dilaksanakan secara berkesinambungan dari waktu ke waktu.

Dalam rangka meningkatkan pemahaman penggunaan alat kesehatan, Direktorat Ketahanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan Ditjen Kefarmasian dan Alat Kesehatan melaksanakan kegiatan Workshop Penggunaan Alat Kesehatan Dalam Negeri untuk mendukung gerakan nasional Bangga Buatan Indonesia (BBI).

Kegiatan yang dilaksanakan di Jakarta Convention Center (JCC) pada tanggal 30 Mei 2022 ini dibuka oleh Dirjen Farmalkes Rizka Andalucia. Dihadiri pula oleh Staf Khusus Menkes Bidang Ketahanan (Resiliency) Industri, Prof. Laksono Trisnantoro, Plt. Direktur Ketahanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan Sodikin Sadek, Direktur Pengawasan Alat Kesehatan Cut Putri Arianie, perwakilan organisasi profesi, akademisi, serta perwakilan dari RSUD di Jabodetabek. Kegiatan ini bertujuan menampilkan dan mensosialisasikan produk-produk alat kesehatan dalam negeri dan inovasinya kepada user dan stakeholder terkait.

Dalam kesempatan ini, Dirjen Farmalkes dalam sambutan pembukaanya mengatakan, Kementerian Kesehatan mendapat tugas untuk meningkatkan pertumbuhan industri alat kesehatan dalam rangka kemandirian dan mendukung ketahanan nasional, khususnya industri alat kesehatan dalam negeri.

“Untuk itu, Kementerian Kesehatan telah menindaklanjutinya dengan mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 17 Tahun 2017 tentang Rencana Aksi Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan, dengan maksud agar industri alat kesehatan di Indonesia tumbuh dan berkembang sehingga mampu menghasilkan alat kesehatan yang inovatif, bermutu, aman dan bermanfaat, memiliki daya saing serta terjangkau oleh masyarakat”, ujar Dirjen Farmalkes.

Dirjen Farmalkes menambahkan kolaborasi antara industri dengan akademisi/perguruan tinggi atau lembaga riset ini diharapkan dapat mendorong inovasi dan perkembangan teknologi alat kesehatan dalam negeri dalam rangka pengembangan industri alat kesehatan dalam negeri sekaligus dapat meningkatkan daya saing produk alat kesehatan dalam negeri dengan biaya riset yang lebih efisien.

Melalui Pertemuan Workshop Penggunaan Alat Kesehatan Dalam Negeri untuk Mendukung Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia ini diharapkan dapat memperoleh hasil yang bermanfaat sehingga pengetahuan user terkait teknologi dan mutu alkes dalam negeri meningkat sebagai upaya untuk mendorong peningkatan penggunaan alat kesehatan dalam negeri pada pelaksanaan pengadaan barang/jasa pemerintah dan mendapatkan masukan dari sisi pengguna alat kesehatan yaitu rumah sakit vertikal dan RSUD terkait penggunaan alat kesehatan dalam negeri”, pungkas Dirjen Farmalkes.

Kegiatan workshop ini meliputi pameran dan diskusi. Adapun diskusi yang dilaksanakan dalam kegiatan ini antara lain:

  • Diskusi mengenai “Prioritas Penggunaan Alat Kesehatan Dalam Negeri oleh RS Vertikal dan RS Daerah” oleh Rumah Sakit Jiwa Dr. Soeharto Heerjan (Vertikal) dan RSUD Cengkareng,
  • Diskusi mengenai “Kewajiban RS Pemerintah Menggunakan Alat Kesehatan Dalam Negeri untuk Mendukung Inpres Nomor 2 Tahun 2022” oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan,
  • Diskusi mengenai “Peran Pengawasan Penggunaan Alat Kesehatan Dalam Negeri oleh BPKP” oleh Direktur Pengawasan Bidang Sosial dan Penanganan Bencana, Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan,
  • Diskusi mengenai “Upaya Jaminan Mutu Alat Kesehatan Produksi Dalam Negeri” oleh ASPAKI,
  • Diskusi mengenai “Upaya Substitusi Produk Impor ke Produk Dalam Negeri” oleh Gakeslab,
  • Diskusi mengenai “Perguruan Tinggi sebagai Innovative Center Alat Kesehatan” oleh IMERI Universitas Indonesia dan Poltekkes Jakarta II.
  • Diskusi mengenai “Dukungan Katalog Sektoral Alat Kesehatan dalam Peningkatan Penggunaan Alkes Dalam Negeri” oleh Kepala Biro UKPBJ Kementerian Kesehatan,
Sedangkan dalam kegiatan pameran, produk alat kesehatan Indonesia yang akan ditampilkan merupakan produk unggulan untuk transformasi kesehatan seperti USG, antropometri, ventilator, anesthesia machine, aneka BMHP (syringe, infusion, dan sebagainya), produk UMKM unggulan kassa medis dari Paguyuban Kassa Pekalongan, dan beberapa prototipe produk inovasi. Industri alat kesehatan Indonesia menempati 6 (enam) booth center yang akan diisi secara kolaboratif antara Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Asosiasi Produsen Alat Kesehatan Indonesia (ASPAKI), Gabungan Perusahaan Alat-alat Kesehatan dan Laboratorium (Gakeslab), Paguyuban Kassa Pekalongan selaku UMKM, beserta sekitar 56 perusahaan alat kesehatan dalam negeri.

Sumber : https://farmalkes.kemkes.go.id/2022/05/dukung-penggunaan-alat-kesehatan-dalam-negeri-melalui-gerakan-nasional-bangga-buatan-indonesia-bbi/

Dukung Penggunaan Alat Kesehatan Dalam Negeri melalui Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (BBI) Read More »

Tingkatkan Penggunaan Alat Kesehatan Dalam Negeri, Ditjen Farmalkes Adakan Pertemuan Business Matching dan Pameran Aksi Afirmasi Peningkatan Penggunaan Alat Kesehatan Dalam Negeri

Alat Kesehatan merupakan salah satu komponen penting dalam pelayanan kesehatan. Namun, berdasarkan data eKatalog LKPP tahun 2019-2020, transaksi alat kesehatan masih didominasi produk impor, yakni mencapai 88% dari total nilai transaksi alat kesehatan. Oleh karena itu, meningkatkan resiliensi atau ketahanan alat kesehatan menjadi salah satu program prioritas Kementerian Kesehatan melalui Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan dalam kerangka Transformasi Sistem Ketahanan Kesehatan.

Hal ini sejalan dengan Instruksi Presiden Nomor 6 tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan yang ditindaklanjuti oleh Kementerian Kesehatan melalui Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 17 tahun 2017 tentang Rencana Aksi Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan.

Dalam rangka mewujudkan Instruksi Presiden tersebut dan meningkatkan penggunaan alat Kesehatan dalam negeri, Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan melalui Direktorat Ketahanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan mengadakan kegiatan “Business Matching, dan Pameran Aksi Afirmasi Peningkatan Penggunaan Produk Alat Kesehatan Dalam Negeri di Hotel Claro Makasar Sulawesi Selatan pada 30 Agustus-1 September 2022 secara luring maupun daring melalui media virtual meeting dan streaming kanal Youtube.

Kegiatan ini dibuka oleh Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Dra. L. Rizka Andalucia, Apt, M.Pharm, MARS, dan dalam sambutannya beliau menjelaskan bahwa masih tingginya alat kesehatan impor pada pelayanan kesehatan di Indonesia harus diantisipasi dengan kebijakan yang mengatur belanja alat kesehatan pada fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah serta penguatan daya saing industri alat kesehatan dalam negeri yang berbasis penelitian terapan dan pemanfaatan sumber daya dalam negeri.

“Melalui pertemuan ini diharapkan dapat memperoleh hasil yang bermanfaat sehingga pengetahuan terkait teknologi dan mutu alkes dalam negeri meningkat dan mendorong peningkatan penggunaan alat kesehatan dalam negeri pada pelaksanaan pengadaan barang/jasa pemerintah”, ungkap Dirjen Rizka.

Selain dihadiri oleh peserta dari Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan, kegiatan ini juga dihadiri oleh 56 peserta yang terdiri dari RSUD dan Dinas Kesehatan Provinsi di regional pulau Sulawesi dan sekitarnya, serta RSUD dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota di wilayah Sulawesi Selatan, Asosiasi (ASPAKI dan GAKESLAB).

Bersamaan dengan acara Workshop dan Business Matching, dalam kegiatan ini juga berlangsung acara Pameran Alat Kesehatan dalam negeri yang dihadiri oleh 59 perusahaan alat kesehatan dalam negeri. Dalam pameran tersebut mereka menampilkan produk alat kesehatan Indonesia seperti USG, antropometri, ventilator, anesthesia machine, dan aneka BMHP (syringe, infusion, dan sebagainya), khususnya produk-produk yang banyak digunakan di rumah sakit umum daerah.

Sumber : https://farmalkes.kemkes.go.id/2022/09/tingkatkan-penggunaan-alat-kesehatan-dalam-negeri-ditjen-farmalkes-adakan-pertemuan-business-matching-dan-pameran-aksi-afirmasi-peningkatan-penggunaan-alat-kesehatan-dalam-negeri/

Tingkatkan Penggunaan Alat Kesehatan Dalam Negeri, Ditjen Farmalkes Adakan Pertemuan Business Matching dan Pameran Aksi Afirmasi Peningkatan Penggunaan Alat Kesehatan Dalam Negeri Read More »

Kemenkes Menargetkan 60% Produksi Alat Kesehatan Dalam Negeri Menggunakan Komponen Dalam Negeri

Kendal, 27 Agustus 2022. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meresmikan fasilitas produksi dan peluncuran perdana alat kesehatan elektromedik Mindray produksi dalam negeri di Kawasan Industri Kendal, Jawa Tengah.

Dalam sambutannya, Menkes menyampaikan terlepas dari situasi pandemi COVID-19 saat ini, tantangan sektor kesehatan masih sangat besar. “Saat ini kita menghadapi triple burden of diseases atau beban tiga penyakit yang muncul secara bersamaan”, kata Menkes.

Ketiga beban penyakit tersebut adalah prevalensi penyakit tidak menular secara cepat, angka penyakit menular yang masih relatif tinggi, serta munculnya fenomena ragam penyakit infeksi baru yang berevolusi dari penyakit lama. Hal tersebut perlu perhatian besar, karena menjadi beban utama pembiayaan kesehatan dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

“Untuk penanganan masalah kesehatan ini, diperlukan dukungan ketersediaan alat kesehatan yang aman, bermutu, dan bermanfaat, serta tentunya terjangkau harganya”, lanjut Menkes.

Dalam upaya resiliensi/ketahanan alat kesehatan, Kementerian Kesehatan fokus pada percepatan produksi alat kesehatan dalam negeri. Industri alat kesehatan di Indonesia diharapkan juga dapat memanfaatkan bahan baku lokal dan meningkatkan penggunaan bahan baku dan komponen dalam negeri, sehingga dapat terwujud ketahanan mulai dari hulu sampai hilir di dalam negeri.

Alat kesehatan produksi dalam negeri yang telah memiliki izin edar yang tentunya memenuhi persyaratan keamanan, mutu dan kemanfaatan, diharapkan memenuhi kebutuhan dalam negeri secara mandiri, dan kemudian dapat bersaing secara global, di pasar ekspor. Untuk itu, industri alat kesehatan harus memiliki kualitas yang memenuhi standar global.

Menkes didampingi oleh Direktur Produksi Alat Kesehatan Sodikin Sadek dan Direktur Produksi dan Distribusi Kefarmasian Agusdini Banun Saptaningsih menyampaikan ingin menargetkan 60% produksi alat kesehatan dalam negeri menggunakan komponen lokal.

“Kalau sekarang masih ada beberapa komponen dari luar negeri tidak apa-apa. Tapi kita tidak bisa melakukan ini terlalu lama. Keinginan kita sekitar 50-60% alat kesehatan dan obat-obatan dari hulu sampai ke hilir harus dikembangkan dan diproduksi di dalam negeri,” kata Menkes.

Dikatakan Menkes dukungan dari para produsen dan UMKM sangat penting guna mewujudkan kemandirian bangsa di bidang kesehatan. Salah satunya yang dilakukan oleh PT. D&V International Makmur Gemilang yang bekerjasama dengan PT. Mindray Medical Indonesia untuk memproduksi alat kesehatan elektromedik dalam negeri.

“Saya menyambut baik atas upaya kerja sama joint venture/alih teknologi yang dilakukan oleh PT. D&V International Makmur Gemilang dan PT. Mindray Medical Indonesia”, kata Menkes.

Joint venture/alih teknologi merupakan salah satu metode yang bisa dilakukan untuk percepatan pengembangan industri alat kesehatan di Indonesia dan hal ini bisa diikuti dengan produk-produk alat kesehatan elektromedik lainnya yang dibutuhkan dalam pelayanan kesehatan, termasuk alat kesehatan dengan teknologi menengah – tinggi, untuk dapat mendorong pencapaian ketahanan dan kemandirian alat kesehatan di Indonesia, pemenuhan kebutuhan alat kesehatan di Indonesia, serta menempatkan Indonesia dalam rantai pasokan global.

Sumber : https://farmalkes.kemkes.go.id/2022/09/kemenkes-menargetkan-60-produksi-alat-kesehatan-dalam-negeri-menggunakan-komponen-dalam-negeri/

PT.Mekar Abadi Pratama
Instalasi Gas Medis
Instalasi Vakum Medis
Instalasi Gas Medis Rumah Sakit
Nurse Call System
Instalasi gas medis dan vakum medis
https://linktr.ee/MekarAbadiPratama
www.mekarabadipratama.co.id
WharsApp : 0821-3784 9704

Kemenkes Menargetkan 60% Produksi Alat Kesehatan Dalam Negeri Menggunakan Komponen Dalam Negeri Read More »

Audiensi Menteri Kesehatan dengan Tim Formularium Nasional

Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Kesehatan Nasional (SJSN) yang dielaborasi dalam Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan, menyatakan bahwa pelayanan obat berpedoman pada daftar obat yang ditetapkan oleh Menteri, dituangkan dalam Formularium Nasional (Fornas).

Fornas merupakan daftar obat terpilih yang menjadi acuan penulisan resep dan sebagai instrumen kendali mutu kendali biaya dalam penyelenggaraan program jaminan kesehatan. Peninjauan Fornas dilakukan secara berkala untuk menyesuaikan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan memberikan ruang perbaikan terhadap isi Fornas. Sejak disusun pertama kali pada tahun 2013, Fornas telah mengalami 4 kali revisi dan 6 kali perubahan (addendum).

Dalam penyusunan Fornas, dibentuk Komite Nasional (Komnas) yang bertanggung jawab kepada Menteri Kesehatan, yang terdiri atas unsur Kementerian Kesehatan, Badan Pengawas Obat dan Makanan, BKKBN, BPJS Kesehatan, organisasi profesi, dan tenaga ahli.

Sehubungan dengan simplikasi Komnas di bidang kefarmasian dan alat kesehatan, pada tanggal 15 Juli 2022 Menteri Kesehatan telah menetapkan Tim Formularium Nasional (Fornas), melalui Kepmenkes Nomor HK.01.07/MENKES/1295/2022 tentang Komite Nasional Seleksi Obat dan Fitofarmaka yang merupakan penggabungan Komnas Penyusunan Fornas, Komnas Penyusunan Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN), dan Komnas Penyusunan Formularium Fitofarmaka, dengan masa bakti hingga 31 Desember 2024.

Tim Fornas yang telah ditetapkan tersebut telah mulai menjalankan tugasnya dalam proses review Fornas tahun ini dengan melakukan penilaian terhadap usulan obat yang akan dimasukkan dalam Fornas, memberikan masukan teknis/ilmiah dalam penyusunan dan penerapan Fornas, dan melakukan evaluasi obat dalam Fornas.

Dengan terbitnya Kepmenkes tersebut, pada tanggal 13 September 2022 Ditjen Kefarmasian dan Alat Kesehatan melalui Direktorat Pengelolaan dan Pelayanan Kefarmasian mengadakan audiensi Tim Fornas dengan Menteri Kesehatan yang dihadiri sekitar 17 orang Tim Fornas dan 20 orang Kementerian Kesehatan secara luring, dan 25 peserta anggota Tim Fornas yang tercantum dalam Kepmenkes secara daring.

Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan, L. Rizka Andalucia, menyampaikan proses pelaksanaan review Fornas saat ini telah dilakukan pembahasan kajian sejak bulan Juli dan telah dilaksanakan Rapat Pleno. Diharapkan seluruh proses pembahasan akan selesai di bulan September, agar penetapan dan pemberlakuan Addendum Fornas dapat segera dilaksanakan.

Pada audiensi ini, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengapresiasi peran aktif dan kerja sama seluruh Tim Fornas sejak penyusunan Fornas tahun 2013 hingga saat ini. “Saya berharap agar Tim Formularium Nasional tetap bersifat independen dan bebas dari konflik kepentingan (conflict of interest), serta memegang komitmen dalam menerapkan kriteria pemilihan obat yang berbasis bukti ilmiah dengan tetap mempertimbangkan rasio manfaat-biaya (benefit cost – ratio) dan rasio manfaat-risiko (benefit – risk ratio)”, kata Menkes.

Audiensi Menteri Kesehatan dengan Tim Formularium Nasional Read More »

Gandeng KADIN, Perwakilan Indonesia di Jepang Dorong Kolaborasi Industri Farmalkes dengan Indonesia

Osaka, NAWACITAPOST.COM – “Dengan nilai transaksi mencapai USD 10,1 Milyar pada 2021, industri farmasi dan alat kesehatan (farmalkes) Indonesia memiliki potensi yang sangat besar. Untuk itulah, Perwakilan Indonesia di Jepang menginisiasi forum bisnis di sektor farmalkes ini sebagai langkah proaktif mendukung realisasi konkret di pilar kerja sama Kesehatan Global pada Presidensi G20 Indonesia,” demikian ungkap Duta Besar Republik Indonesia (Dubes RI) untuk Jepang, Heri Akhmadi dalam sambutan pembuka pada kegiatan Indonesia – Japan Pharmaceutical and Medical Devices Business Forum yang diinisiasi KBRI Tokyo dan KJRI Osaka, dan didukung oleh KADIN Komite Bilateral Indonesia – Jepang pada 6 Oktober 2022.

Pada kegiatan forum bisnis tersebut, KADIN Indonesia memimpin kehadiran 15 delegasi bisnis Indonesia dari 9 perusahaan farmasi dan alat kesehatan Indonesia, termasuk juga perwakilan dari Asosiasi Produsen Alat Kesehatan Indonesia (ASPAKI) dan Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GPFI). “Kami mengapresiasi inisiatif Perwakilan Indonesia di Jepang untuk turut menjembatani kerja sama antara pelaku bisnis. KADIN tentunya siap support kerja sama Indonesia – Jepang di berbagai sektor,” tutur Wandi Wanandi, Ketua KADIN Komite Bilateral Indonesia – Jepang.

Sebagai outcome dari forum bisnis farmalkes, telah ditandatangani komitmen kerja sama antara GPFI dengan mitranya di Jepang yakni the Federation of Pharmaceutical Manufacturers’ Association of Japan (FPMAJ), khususnya untuk membuka kontak dalam penjajakan co-production dan riset. “FPMAJ merasa terhormat dapat hadir di forum bisnis hari ini dan mengharapkan kolaborasi lebih lanjut dengan Indonesia di bidang Kesehatan,” sebut Director General FPMAJ, Mr. Toshihiko Miyajima.

Dukungan terhadap penguatan kerja sama Indonesia dan Jepang di bidang farmalkes juga disampaikan oleh Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Dr. Penny K. Lukito, dalam keynote speech melalui pesan video.

Pasar Indonesia merupakan faktor signifikan yang menarik bagi investor Jepang, untuk itu saya mengundang pelaku industri farmasi Jepang untuk menjalin kolaborasi lebih luas dengan Indonesia melalui penelitian dan pengembangan obat-obatan berbasis teknologi,” kata Penny.

Forum bisnis farmalkes menghadirkan pidato kunci dari Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan, DR. Kunta Wibawa dan Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT) Kementerian Perindustrian RI, Ignatius Warsito.

“Saat ini Pemerintah Indonesia tengah memfokuskan 6 pilar utama transformasi sektor kesehatan Indonesia, antara lain meliputi transformasi layanan dasar dan rumah sakit, serta sistem kesehatan yang resilience. Kami mengundang mitra dari Jepang untuk turut berkontribusi dalam pengembangan teknologi farmalkes di Indonesia,” ujar Sekjen Kunta.

Sementara itu, Dirjen Warsito menekankan komitmen Pemerintah Indonesia mendorong kemandirian industri farmalkes melalui pengembangan industri bahan baku dan terus berupaya menyempurnakan regulasi untuk meningkatkan produk dalam negeri.

Guna memberikan pandangan dari pelaku industri, forum bisnis farmalkes juga turut menghadirkan perwakilan dari Asosiasi dalam diskusi panel, antara lain Sekjen ASPAKI, Cristina Sadjaja dan Presiden Direktur Kimia Farma David Utama selaku wakil dari GPFI.

Dalam paparannya, baik ASPAKI maupun GPFI turut memaparkan landscape industri farmalkes Indonesia dan mengajak kolaborasi dengan Jepang, baik dalam hal joint production, pelatihan kapasitas dan kerja sama riset.

Kegiatan forum bisnis juga dirangkaikan dengan berbagai kegiatan kunjungan lapangan dan pertemuan bisnis selama 5 – 7 Oktober 2022. Terdapat sekitar 38 pertemuan bisnis terjalin dan 5 lokasi kunjungan lapangan, antara lain ke pusat riset SYSMEX i-Square, Otsuka Electrics Factory, Fuji Film Wako Pure Chemical Factory, Pharmira Co.Ltd, dan Kobe Biomedical Innovation Cluster. Kegiatan forum bisnis farmalkes di Osaka terselenggara atas kerja sama KBRI Tokyo, KJRI Osaka, KADIN Komite Bilateral Indonesia – Jepang, Kementerian Perindustrian, IIPC Tokyo dan ITPC Osaka serta beberapa mitra Jepang seperti METI Kansai, FPMAJ dan JETRO.

(KBRI Tokyo/KJRI Osaka)

Gandeng KADIN, Perwakilan Indonesia di Jepang Dorong Kolaborasi Industri Farmalkes dengan Indonesia Read More »

Open chat
Halo ada yang bisa kami bantu ?
Hello We Are PT Mekar Abadi Pratama ada yang bisa kami bantu ?
-
Powered By :
PT. Mekar Abadi Pratama
www.mekarabadipratama.co.id
---------------------------------------
Instalasi Gas Medik, dan Vacuum Medis (IGVM), Penyedia jasa pelayanan pekerjaan, perbaikan, dan pengadaan barang alat-alat kebutuhan kesehatan Rumah Sakit, Puskesmas, Poli Klinik, Balai Pengobatan